– Ashabul Ukhdud merupakan salah satu kisah yang terjadi di masa transisi antara Nabi Isa dan Nabi Muhammad. Kisah ini menjadi kisah kematian yang menggenaskan dalam sepanjang sejarah. Berawal dari seorang anak muda yang tengah mencari kebenaran antara ilmu sihir atau ilmu agama.
Kisah pun berlanjut, dalam perjalanan penemuan itu ia bertemu dengan binatang buas yang siap menerkam. Kemudian demi meyakinkan hatinya pemuda itu berdoa “Ya Allah, jika engkau lebih Ridha kepada pendeta daripada tukang sihir, maka bunuhlah binatang ini,” dengan izin Allah seketika hewan itu mati saat dilempar batu.
Setelah peristiwa tersebut, pemuda ini pun dikarunia kemampuan menyembuhkan penyakit. Akhirnya popularitasnya terkenal di seluruh penjuru daerah, hingga terdengar kabar tersebut kepada menteri raja yang buta.
Pemuda itu pun menegaskan bahwa kesembuhan ini adalah karunia dari Allah, maka untuk mencapainya harus di dahului iman. Perintah itu diikutinya dan akhirnya menteri pun beriman dan matanya kembali pulih. Mendengar kabar tersebut raja murka dan menghukum mereka berdua.
Setelah beberapa percobaan kematian dilakukan untuk pemuda namun selalu gagal. Akhirnya pemuda itu menawarkan solusi untuk membunuhnya. Ia menginginkan kematiannya tersebut disaksikan rakyat dan bunuhlah ia dengan melepaskan anak panah ke tubuhnya sembari mengucapkan “Bismillah Rabbi Al-Ghulam.” Sang raja pun mengikuti petunjuk itu dan akhirnya pemuda pun wafat.
Ajaibnya, peristiwa kematian tersebut justru mendatangkan hidayah bagi para rakyat untyuk berbondong-bondong beriman. Kemarahan raja pun semakin mengganas, kemudian raja menggali parit besar dan menyalakan api di dalamnya sebagai bentuk menguji iman rakyat.
Sayangnya, tipu muslihat raja tidak menggetarkan hati rakyat untuk beriman kepada Allah. Bahkan seorang ibu yang hampir goyah, seketika bayi kecilnya diberikan kemampuan berbicara dan menguatkan hati ibu tersebut bahwa jalan yang mereka pilih adalah jalan yang benar.
Kisah Ashabul Ukhdud ini diceritakan langsung dalam Al-Qur’an surah Al-Buruj ayat 4-8. Yang memberikan pembelajaran bahwa kemenangan yang hakiki itu terletak pada kekuatan iman. Seberapa sulitnya tantangan yang menggoyahkan, namun saat keimanan terus dijaga maka Allah yang akan membantu urusan duniawinya. Maka teruslah bersabar dalam menjaga keimanan. Nah, seperti ini juga yang dialami saudara kita di Palestina, dalam gemparan perang mereka tetap bahagia seolah hidupnya aman-aman saja. Inilah pembuktian iman, seberat apapun kondisi mereka tetap bertahan. Inilah hakikat kebahagiaan hakiki yang dijanjikan Allah untuk mereka yang bertahan dengan imannya.